Tanah Terbelah di Kampung Paku Golo Linus Manggarai Timur, 14 KK Mengungsi ke Kebun

www.pencarifakta.com.ǁNTT,31 Agustus 2026-Terjadi fenomena alam berupa tanah terbelah di kampung Paku, Desa Golo Linus, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur. 

Kondisi ini menyebabkan 14 kepala keluarga (KK) mengungsi ke kebun. 

Tanah terbelah itu pas di tengah-tengah kampung. Tanah terbelah ini juga hingga terlihat di jalan di kampung itu, bahakan tanah terbelah ini juga hingga sampai di bangunan rumah warga, hingga sejumlah ruman warga di kampung itu retak-retak dan terancam rubuh. 

Munculnya fenomena alam berupa tanah terbelah ini, warga di kampung ini pun panik dan memilih untuk lari mengungsi di kebun-kebun milik mereka masing-masinng. 

Camat Elar Selatan, Herman Agas,  Senin 31 Agustus 2026, mengatakan, ia sudah turun dan memantau langsung fenomena tanah bergeser atau terbelah di kampung Paku, Desa Golo Linus. 

Mantan Sekertaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Kabupaten Manggarai Timur itu mengatakan, kondisi tanah terbelah itu di sepanjang kampung yang dihuni oleh 14 kepala keluarga dan lebih dari 100 jiwa itu. 

“Saya turun langsung pantau kemarin, tanah terbelah ini terlihat di sepanjang kampung ini mulai dari jalan terbentang ke halaman rumah, hingga sampai terkena sejumlah rumah sehingga sejumlah rumah milik warga di kampung itu juga terancam ambruk karena sudah retak-retak,” ujar mantan Kepala Bidang Pendidikan Non Formal, Dinas P dan K Kabupaten Manggarai Timur itu. 

Menurut Herman, fenomena tanah terbelah itu mengancam akan merusak 14 rumah milik 14 kepala keluarga di kampung itu. 

Herman mengatakan, kejadian tanah terbelah itu saat terjadi gempa Flores M7.7 dan kini mulai membesar dan terus menjalar dampak gempa-gempa susulan yang terus terjadi. 

“Sekarang tanah terbelah itu semakin meluas akibat gempa susulan yang terus terjadi,” ungkapnya. 

Herman juga mengatakan, kini warga yang mengungsi meminta bantuan terpal untuk mendirikan posko pengungsian dan juga sembako untuk memenuhi kebutuhan mereka saat mengungsi dan bertahan hidup selama di posko. 

“Memang warga di kampung ini juga sudah dapatkan bantuan sembako dan terpal dari BNPB dimana saya yang serahkan langsung, tapi bantuan terpal ini masih terbatas karena belum semua kepala keluarga dapat. Begitu juga sembako juga terbatas, sehingga warga merindukan bantuan ini di saat mengungsi ini,” ujar Herman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *