Dampak Krisis Air Bersih Warga Magelo’o Sikka Terpaksa Konsumsi Air Kubangan

www.pencarifakta.com.ǁNTT,26 September 2026-Krisis air minum bersih menyebabkan warga di Dusun Magelo’o, Desa Rerojoja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus turun naik bukit untuk mendapatkan air minum dari kubangan.

Setiap pagi dan sore, masyarakat di dusun ini, melawati perbukitan dengan jarak kurang lebih 500 meter dari rumah mereka.

Warga kemudian memadati bantaran sungai untuk mengambil air yang digunakan khusus untuk minum dan memasak.

Di bantaran sungai itu, warga membuat kubangan-kubangan kecil sebagai sarana untuk menampung air. Biasanya kubangan yang dibuat ini dibiarkan selama 24 jam agar air yang ditampung kelihatan bersih.

Dari kubangan yang dibuat, dengan sejumlah jeriken yang dibawah dari rumah, warga pun berantrean untuk menggayung air dan mengisinya.

Maria Haslinda, warga RT 01 Dusun Magelo’o, mengatakan di kampung mereka, tidak ada sumber mata air.

Akibatnya warga harus turun ke sungai untuk membuat lubang di pinggir sungai kemudian digunakan untuk memasak dan minum sehari-hari

Menurutnya, warga yang kurang lebih 11 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di perbukitan itu hanya mengandalkan air kubangan itu di saat musim kemarau.

Sedangkan disaat musim hujan, warga harus mengeluarkan biaya untuk mengisi pulsa listrik kepada tetangga yang mempunyai sumur, agar bisa mendapatkan air dari sumur tetangga.

Namun karena kondisi air di sumur yang sudah mulai mengering, warga kemudian beralih ke sungai untuk mengambil air dari kubangan.

“Kami di bukit ini tidak ada air dari sumur, jadi kami ambil air di kali pake gali, air ini untuk minum untuk masak, kalau bisa kasi kami air, mesin pompa begitu, kami di bukit ini hanya mengharapkan air dari kubangan ini saja, ” Katanya Sabtu 26 Seperempat 2026.

Kondisi yang dialami warga pun diakui Apolonaris Yulianus, ASN di Kecamatan Magepanda.

Menurutnya, kondisi pemukiman warga yang terletak di perbukitan, sehingga masing-masing rumah tidak bisa membangun sumur dan harapan satu-satunya harus turun naik bukit untuk mengambil air dari kubangan di bantaran sungai.

“Kalau musim panas, biasanya mereka gali kubangan di sini untuk bisa ambil air untuk minum. Alasannya karena warga tidak bisa gali sumur di rumahnya,” jelas Apolonaris Yanuarius Woda, Staf Kecamatan Magepanda.

“Rumah warga rata-rata di perbukitan sehingga harapan kami kalau bisa pemerintah memperhatikan mereka mungkin bisa dibuat pompanisasi untuk mengalirkan air dari boran ini ke tempat mereka, ” sambung Apolonaris.

Ia berharap, kondisi ini menjadi perhatian pemerintah dengan menyediakan mesin pompa air yang baru agar bisa digunakan warga untuk mendapatkan air bersih yang nantinya selain digunakan untuk minum dan masak, juga untuk kebutuhan lainnya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *