Merasa Diabaikan Pemerintah, Warga Empat Desa di Ende Swadaya Perbaiki Jalan Rusak

www.pencarifakta.com.ǁNTT,7 Juni 2026-Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, warga dari empat desa di Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Kabupaten Ende, mengaku masih merasakan keterisolasian akibat buruknya akses jalan yang menghubungkan wilayah mereka. 

Merasa tidak kunjung mendapat perhatian dan diabaikan Pemerintah daerah, Warga empat Desa di Ende t akhirnya turun tangan sendiri swadaya perbaiki jalan rusak melalui kerja bakti gotong royong.

Empat desa di Kecamatan Lepembusu Kelisoke yang terdampak yakni Desa Pise, Desa Hangalande, Desa Lokaoja, dan Desa Tiwusora. 

Jalan penghubung antarwilayah tersebut telah dibuka sejak tahun 1999, namun hingga kini kondisinya masih jauh dari layak. 

Kerusakan yang terjadi tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Warga dari Desa Hangalande, Desa Lokaoja, dan Desa Tiwusora bergotong royong memperbaiki sejumlah titik jalan yang rusak parah. 

Mereka menggunakan peralatan sederhana dan tenaga sendiri sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan akses transportasi yang selama ini belum tersentuh perbaikan memadai.

Tokoh masyarakat Desa Liselande, Rofinus Kale, mengungkapkan kekecewaannya terhadap minimnya perhatian pemerintah terhadap kondisi infrastruktur di wilayah tersebut. 

Menurutnya, kerusakan jalan yang dibiarkan bertahun-tahun telah menyebabkan sejumlah kecelakaan.

“Di tempat ini sudah pernah terjadi tiga kali mobil terbalik. Pemerintah daerah sampai saat ini seolah menutup mata dan tidak pernah memperhatikan jalan kami,” ujar Rofinus.

Ia menilai kondisi jalan yang rusak bukan hanya menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga mengancam keselamatan warga yang setiap hari melintas untuk bekerja, bersekolah, maupun mengakses layanan kesehatan.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Desa Tiwusora, Lukas Lengga. 

Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Ende agar lebih peka terhadap kondisi masyarakat di wilayah pedalaman dan tidak lagi mengabaikan kebutuhan infrastruktur dasar yang sangat dibutuhkan warga.

Menurut Lukas, di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi, pemerintah dituntut mampu melihat secara langsung realitas kehidupan masyarakat di pelosok yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Aksi gotong royong yang dilakukan warga tidak sekadar bertujuan memperbaiki jalan, tetapi juga menjadi bentuk protes dan kritik terbuka terhadap kurangnya perhatian pemerintah. 

Perwakilan pemuda Desa Tiwusora, Rian Gare, menegaskan, masyarakat selama ini merasa suara mereka jarang didengar.

“Di tanah-tanah sunyi perbatasan ini, suara kami kerap tenggelam. Hari ini kami memilih bersuara, bukan untuk mengeluh, melainkan untuk menggugat nurani eksekutif dan legislatif,” tegas Rian.

Ia menambahkan, ketimpangan pembangunan yang terjadi bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari. 

Warga harus berjuang menghadapi jalan rusak demi memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh hak atas pelayanan yang layak.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki akses jalan yang menjadi urat nadi kehidupan empat desa tersebut. 

Mereka menilai pembangunan infrastruktur yang merata merupakan hak seluruh warga negara, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil.

Sementara menunggu realisasi perhatian pemerintah, warga memilih mengandalkan semangat gotong royong dan kebersamaan untuk menjaga akses jalan agar tetap dapat dilalui. 

Bagi mereka, jalan yang layak bukan sekadar sarana transportasi, melainkan harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan setara dengan masyarakat di wilayah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *