www.pencarifakta.com.ǁNTT,29 September 2026-Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Todang kampung Ili Gai, Desa Hokor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, menempuh perjalanan jauh dan melewati medan ekstrim.
Seperti yang dialami belasan siswa SDN Todang asal kampung Ili Gai, Agar bisa sampai ke sekolah, para siswa harus berjalan kaki sejauh 3 Kilometer untuk ke sekolah, persis 6 Kilometer setiap hari.
Para siswa harus melewati medan ekstrim, seperti jalan setapak yang menanjak, berbatu, melawati hutan hingga menyusuri punggung bukit.
Perlahan-lahan, para siswa ini melawati medan ekstrim tanpa sepatu menuju ke sekolah, beberapa diantaranya menggunakan sepatu namun sudah rusak karena setiap hari menempuh perjalanan jauh.
Beberapa orang tua bahkan berjalan kaki mengantar anak mereka ke sekolah, sebelum para orang tua bekerja di kebun, sementara itu, disaat jam pulang sekolah, para siswa ini berjalan bersama untuk kembali ke rumah.
Meski demikian, Semangat mendapatkan pendidikan tidak menyurutkan niat mereka demi mendapatkan pendidikan ditengah keterbatasan.
Saat tiba di sekolah, para siswa ini harus beristirahat sejenak di halaman sekolah, karena kelelahan berjalan kaki dari rumah sekolah, usai beristirahat sejenak, mereka lalu masuk kedalam ruang kelas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
Di SDN Todang terdapat 20 siswa yang terdata di Data Pokok Pendidikan (Dapodik), 16 Siswa berasal dari kampung Ili Gai, sedangkan 4 siswa berasal dari Kampung Todang,dengan jumlah guru berjumlah 6 orang dengan status sebagai ASN.
“siswa yang berasal dari kampung Ili Gai, itu mereka menempuh jarak ke sekolah itu, sekitar 3 kilometer, melewati punggung-punggung bukit, dan kita cukup prihatin dengan keadaan mereka bisa sampai di sekolah, kondisi jalan sampai di sekolah, sehingga harapan kami, biarlah akses jalan dibuka sehingga kami bisa sampai di sekolah dengan kendaraan bermotor ” Kata Kepala SDN Todang, Nikolaus Helder, Selasa 29 September 2026.
Kondisi jalan terjal, melewati hutan dan berbatu ini, membuat para siswa kecapean saat tiba di sekolah. Para siswa harus beristirahat sejenak kemudian mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Namun, kehadiran para siswa menurun pasca gempa Flores, pasalnya akses jalan mereka yang melewati punggung bukit Ili Gai, terjadi longsoran dan beberapa akses jalan retak-retak. Sehingga para siswa belum rutin ke sekolah, beberapa orang tua bahkan harus mengantar anak mereka hingga di sekolah karena khawatir.
Para guru pun prihatin dengan kondisi akses jalan para siswa dari rumah ke sekolah, karena membutuhkan waktu dan tenaga, pasalnya melewati medan ekstrim, salah satunya melalui punggung bukit Ili Gai.
Perjuangan ke sekolah bukan hanya dirasakan para siswa, Para guru harus berjalan kaki kurang lebih 1 Kilometer dari Kampung Hokor ke SDN Todang, melewati jalan terjal, hutan dan berbatu.
Meski letak sekolah di wilayah pedalaman, para guru di SDN Todang, tidak termasuk dalam daftar guru yang mengabdi di daerah-daerah khusus.
Para guru dan siswa hanya bisa berharap perhatian dari pemerintah untuk membuka akses jalan yang layak ke SDN Todang.
