Warga Geo Ola Nagekeo NTT Akses Air Bersih di Embung yang Juga Jadi Tempat Minum Ternak 

www.pencarifakta.com.ǁNTT,22 Juli 2026-Bagi sebagian besar masyarakat, air bersih dapat diperoleh hanya dengan membuka keran.  Namun, kehidupan berbeda masih dialami warga Kampung Geo Ola, Desa Gerodhere, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT. 

Hingga saat ini, sebanyak 17 kepala keluarga (KK) yang menempati 12 rumah masih harus berjuang setiap hari demi mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Perjuangan itu dimulai dengan berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju sebuah embung.  Dari tempat itulah warga mengambil air untuk minum, memasak, mandi, dan mencuci. 

Ironisnya, embung tersebut juga menjadi tempat minum ternak sehingga kualitas air yang dibawa pulang jauh dari kata layak untuk dikonsumsi. Penderitaan warga semakin terasa saat musim kemarau tiba. 

Debit air di embung terus menurun sehingga masyarakat harus mengantre selama berjam-jam hanya untuk memperoleh beberapa jeriken air.

Ketua RT 13 Kampung Geo Ola, Yohanes Meke Wona, mengatakan krisis air bersih bukanlah persoalan baru. Kondisi tersebut telah dialami masyarakat selama puluhan tahun, bahkan hampir mencapai satu abad.

Meski hidup dalam berbagai keterbatasan, warga tetap memilih bertahan di kampung leluhur yang diwariskan turun-temurun. “Kalau musim panas kami sangat menderita. Untuk minum, mandi, mencuci, semuanya sulit. Air yang kami ambil jaraknya sekitar dua kilometer dari embung yang juga dipakai ternak,” kata Yohanes, Selasa (21/7).

Ia menjelaskan, orang tua mereka dahulu membuat resapan sederhana di sekitar sumber air agar memperoleh air yang lebih jernih.  Cara tersebut masih digunakan hingga sekarang, tetapi debit air yang keluar sangat kecil. Akibatnya, setiap rumah hanya mampu memperoleh sekitar lima jeriken air dalam sehari. 

Untuk mendapatkan jumlah tersebut, warga harus menunggu berjam-jam secara bergantian. “Untuk mendapatkan lima jeriken saja kami harus menunggu berjam-jam. Kalau kasihan dengan warga lain, kami tidak bisa mengambil lebih banyak. Kalau ingin cepat, terpaksa langsung mengambil air dari embung meski kualitasnya kurang baik,” ujarnya.

Tidak hanya menghadapi keterbatasan air bersih, masyarakat juga mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. 

Berbagai usulan telah diajukan mulai dari tingkat desa hingga pemerintah kabupaten, namun hingga kini belum membuahkan hasil.

Keluhan senada juga diungkapkan warga Kampung Geo Ola, Florida Meme. Menurut Florida, masyarakat tidak hanya membutuhkan jaringan air bersih, tetapi juga infrastruktur jalan dan listrik yang memadai.

“Kami di sini memiliki sawah tadah hujan. Kami sudah mengajukan proposal melalui kelompok tani, tetapi tidak pernah mendapat bantuan. Mungkin pemerintah sudah lupa dengan kami,” ungkap Florida.

Selain sulit diperoleh, kualitas air yang dikonsumsi warga juga menjadi persoalan serius. Air yang tersedia mengandung kapur cukup tinggi, berwarna keruh, dan tidak jernih sehingga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Karena itu, warga berharap pemerintah tidak hanya membangun jaringan distribusi air bersih, tetapi juga menyediakan fasilitas penyaringan air agar kualitas air yang dikonsumsi menjadi lebih aman.

“Kami hanya berharap ada solusi agar masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih. Air adalah kebutuhan pokok yang sangat menentukan kualitas hidup kami,” tutur salah seorang warga. (bet)

Bantuan PLAN Internasional

DI tengah keterbatasan masyarakat di Kampung Geo Ola, Desa Gerodhere, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo itu, secercah harapan hadir melalui bantuan tandon penampung air dari Yayasan PLAN International Indonesia PIA Nagekeo. 

Bantuan itu disambut penuh rasa syukur oleh masyarakat karena dapat dimanfaatkan untuk menampung air hujan saat musim penghujan tiba. Tokoh masyarakat Kampung Geo Ola, Lorensius Lawi, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Yayasan PLAN International Indonesia PIA Nagekeo terhadap kondisi warga.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan PLAN International Indonesia PIA Nagekeo atas bantuan tandon air ini. Bantuan ini sangat berarti bagi kami karena bisa digunakan untuk menampung air hujan saat musim hujan tiba. Kami sangat membutuhkannya,” ujarnya.

Meski bantuan tersebut sangat membantu, Lorensius menegaskan bahwa tandon air bukanlah solusi utama atas persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. 

Menurutnya, masyarakat tetap membutuhkan sistem penyediaan air bersih yang permanen agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Warga berharap Pemkab Nagekeo bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret dengan membangun jaringan air bersih yang layak. Mereka menilai akses terhadap air bersih merupakan hak dasar setiap warga negara yang harus dipenuhi demi meningkatkan kesehatan, kebersihan, dan kesejahteraan masyarakat.

Selama harapan itu belum terwujud, perjalanan sejauh dua kilometer menuju embung akan tetap menjadi bagian dari rutinitas warga Kampung Geo Ola, sebuah perjuangan panjang yang menggambarkan masih terbatasnya akses terhadap kebutuhan paling mendasar di sebagian wilayah Kabupaten Nagekeo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *