www.pencarifakta.com.ǁNTT,25 Mei 2026-Bencana longsor yang dipicu hujan berkepanjangan dengan intensitas tinggi di Kabupaten Malaka kembali menimbulkan kerusakan serius. Kali ini, sebuah gedung di SMP Negeri Halioan, Desa Barene, Kecamatan Malaka Tengah roboh akibat pergerakan tanah yang terus terjadi di lokasi tersebut.
Pantauan Pos Kupang di lokasi pada Sabtu (23/5), kondisi bangunan sekolah tersebut tampak mengalami kerusakan sangat parah dan tidak lagi layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Kerusakan terjadi setelah tanah di sekitar area sekolah mengalami longsor yang menyebabkan struktur bangunan kehilangan penyangga dan akhirnya runtuh.
Dari bagian belakang gedung, terlihat tembok bangunan telah pecah dan ambruk. Material bangunan berserakan di sekitar lokasi, sementara lantai gedung juga mengalami rusak berat. Retakan besar tampak membelah lantai akibat pergeseran tanah yang terus berlangsung sejak beberapa waktu terakhir.
Tidak hanya di bagian belakang, kondisi tanah di bagian depan gedung juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Sejumlah retakan besar terlihat membelah permukaan tanah di sekitar bangunan. Pergerakan tanah berpotensi akan terjadi kerusakan lanjutan terhadap bangunan lain yang berada di sekitar lokasi sekolah.
Di sisi belakang gedung, tanah yang menjadi penopang bangunan juga telah longsor. Akibatnya, fondasi bangunan semakin terancam dan struktur gedung tidak lagi mampu menopang beban secara normal.
Gedung yang mengalami kerusakan tersebut terdiri dari tiga ruangan kelas. Ketiga ruangan itu kini tidak dapat lagi digunakan. Meski demikian, aktivitas belajar mengajar masih berlangsung dengan memanfaatkan bangunan lain.
SMP Negeri Halioan sendiri berada di kawasan kompleks pendidikan yang strategis, tepat di antara SD Negeri Halioan dan SMA Negeri Halioan.
Kepala SMP Negeri Halioan, Erni Yanti Pandie, saat ditemui di kediamannya di Desa Barene, Sabtu (23/5) menjelaskan, berdasarkan cerita para guru yang telah lama mengabdi di sekolah tersebut, tanda-tanda kerusakan bangunan sudah mulai terlihat sejak enam tahun lalu ketika longsor pertama kali terjadi.
Ia menjelaskan, sejak tembok bangunan mulai runtuh pada tahun 2020, pihak sekolah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan tiga ruang kelas yang terdampak karena dinilai membahayakan keselamatan siswa dan guru.
Akibat kehilangan tiga ruang kelas, SMP Negeri Halioan selama bertahun-tahun harus menyiasati keterbatasan sarana dengan memanfaatkan ruangan kosong milik SD Negeri Halioan yang berada di kompleks yang sama.
Menurut Erni, beberapa ruang lama yang tidak lagi digunakan oleh pihak SD kemudian dipinjamkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswa SMP.
“Sejak tahun 2020 kami menggunakan beberapa ruangan kosong milik SD Negeri Halioan. Syukur karena masih ada ruang yang bisa dipakai sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan,” tuturnya.
Saat ini SMP Negeri Halioan hanya memiliki dua ruang kelas yang masih layak digunakan dari total lima ruang belajar yang sebelumnya tersedia.
Sementara itu, kebutuhan ruang guru juga menjadi persoalan tersendiri. Pihak sekolah terpaksa memanfaatkan satu unit Ruang Dinas Guru (RDG) yang berukuran sekitar 4 x 6 meter persegi untuk berbagai fungsi.
Ruangan tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat kerja guru, tetapi juga menjadi lokasi penyimpanan buku-buku perpustakaan sekolah serta berbagai administrasi pendidikan. “Kami bahkan memanfaatkan teras depan RDG untuk tempat guru bekerja dan beraktivitas,” jelasnya.
Teras tambahan yang kini digunakan para guru baru dibangun pada Agustus 2025. Sebelumnya, para tenaga pendidik bahkan harus menggunakan emperan kelas sebagai tempat bekerja ketika tidak sedang mengajar.
Di tengah keterbatasan sarana yang ada, SMP Negeri Halioan saat ini tetap melayani 116 siswa yang tersebar dalam enam rombongan belajar (rombel). Jumlah tenaga pendidik dan kependidikan juga cukup banyak, yakni 23 guru dan tiga tenaga kependidikan, sehingga total terdapat 26 personel yang setiap hari menjalankan aktivitas pendidikan di sekolah tersebut.
Ia menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pembangunan gedung baru yang aman dan representatif bagi siswa. Sekolah saat ini membutuhkan sedikitnya empat ruang kelas tambahan, satu ruang guru, serta fasilitas sanitasi yang memadai.
“Kami juga membutuhkan WC untuk siswa karena saat ini hanya ada satu WC yang berada di RDG. Itu yang dipakai bersama. Jadi kebutuhan ruang belajar dan fasilitas pendukung memang sangat mendesak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malaka, Manfred Laak saat dihubungi Pos Kupang melalui pesan WhatsApp terkait kondisi tersebut, hingga kini belum memberikan respons. Bahkan pesan yang dikirim juga belum dibaca.












