Suster Sri Lestari Tegaskan Pendidikan Budaya Penting untuk Menjaga Identitas Generasi Muda Belu

www.pencarifakta.com.ǁNTT,25 Januari 2026-Koordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Suster Caritas Sri Lestari, OSU menegaskan, pentingnya pendidikan budaya sebagai fondasi dalam menjaga identitas generasi muda Belu di tengah arus perubahan dan pengaruh budaya luar.

Hal tersebut disampaikan Suster Sri Lestari saat ditemui usai kegiatan Saint Angela Culture Day di Gedung Ballroom Bahagia Atambua. Sabtu (24/1/2026) malam. 

Menurutnya, proses pendidikan budaya tidak semata-mata berorientasi pada hasil akhir, melainkan pada proses pembelajaran yang membentuk kesadaran, kecintaan, dan kepercayaan diri anak terhadap budayanya sendiri.

“Latihan-latihan yang dilakukan anak-anak membantu mereka memahami apa yang ingin disampaikan melalui budaya. Proses ini menumbuhkan pengenalan, kecintaan, dan penghargaan terhadap budaya sendiri. Bagi kami, yang terpenting bukan hasil akhirnya, tetapi proses yang dilalui anak-anak,” ujar Sr. Lestari.

Ia menilai bahwa ketika anak-anak diberikan ruang untuk berekspresi, kesempatan, dan kepercayaan, mereka akan tumbuh dengan kemauan dan keberanian untuk berkarya. 

Menurutnya, pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang memberi ruang proses, meskipun dalam pandangan tertentu hasilnya belum sempurna.

“Ketika seseorang diberi kesempatan dan kepercayaan, dia bisa dan mau berkembang. Mungkin bagi sebagian orang hasilnya belum terlihat baik, tetapi proses inilah yang paling penting dalam pendidikan,” katanya.

Sr. Lestari juga mengakui bahwa menyatukan gagasan antara peserta didik dan para pendidik dalam satu visi pendidikan budaya bukanlah hal yang mudah. 

Namun demikian, ia memandang proses tersebut sebagai sebuah anugerah dalam perjalanan pendidikan di Kampus Ursulin Santa Angela Atambua.

“Bagi kami, menyatukan anak-anak dan para guru dalam satu visi bukan hal yang sederhana, tetapi itu adalah sebuah anugerah. Di situlah pendidikan berlangsung secara utuh,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sr. Lestari menekankan pendidikan budaya menjadi benteng penting agar generasi muda tidak kehilangan jati diri ketika kelak meninggalkan kampus dan terjun ke masyarakat luas.

 “Anak-anak pasti akan keluar dari sini dan menghadapi dunia luar. Yang kami khawatirkan adalah ketika mereka keluar sebagai orang Timor tetapi kehilangan identitasnya, atau merasa bahwa budaya luar lebih baik dari apa yang mereka miliki. Atau orang dari luar yang lebih mengerti dan pahami budaya Timor atau Belu. Itu sangat berbahaya,” tegasnya.

Ia berharap melalui pendidikan budaya yang konsisten, lewat Saint Angela Culture Day anak-anak generasi muda Belu dapat tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, mengenal jati dirinya, serta mampu membawa dan menghidupi nilai-nilai budaya lokal dalam kehidupan mereka.

“Sebagai orang Timor dan masyarakat Belu, anak-anak harus percaya diri dengan identitasnya dan mampu mengekspresikan nilai-nilai itu dalam hidup mereka. Itulah tujuan utama pendidikan budaya yang kami jalankan,” tutup Sr. Lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *