www.pencarifakta.com.ǁNTT,12 Agustus 2026-Abrasi pantai terus mengancam permukiman warga di pesisir Raikatar, Dusun Fatukaduak, Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu. Hantaman gelombang dan arus laut mengikis daratan hingga merusak rumah serta vegetasi di sekitar pantai.
Lokasi yang berada tepat di samping Pelabuhan Atapupu itu kini menghadapi ancaman abrasi yang semakin mengkhawatirkan.
Warga bahkan terpaksa memanfaatkan batang-batang pohon yang tumbang untuk membuat penghalang darurat di bibir pantai agar gelombang tidak langsung menerjang permukiman.
Pantauan Pos Kupang, terlihat sejumlah pohon di kawasan pesisir tumbang akibat terjangan gelombang dan pengikisan pantai. Pohon-pohon tersebut kemudian dipotong warga dan ditumpuk di sepanjang bibir pantai.
Batang dan dahan pohon yang ditumpuk itu menjadi semacam penahan darurat. Warga berharap tumpukan tersebut dapat memecah kekuatan gelombang sehingga air laut tidak langsung masuk ke rumah-rumah yang berada tidak jauh dari garis pantai.
Selain batang pohon, warga juga menggunakan karung-karung berukuran besar berisi pasir untuk menghadang gelombang. Namun, berbagai upaya tersebut masih bersifat sementara dan belum mampu memberikan perlindungan secara permanen.
Kondisi pesisir terlihat memprihatinkan. Batang pohon, ranting dan material lainnya berserakan di sekitar kawasan pantai. Di beberapa bagian, jarak antara garis pantai dan permukiman warga semakin dekat akibat daratan yang terus terkikis.
Salah seorang warga, Rini Habi (37), mengatakan ancaman gelombang semakin membuat warga khawatir. Rumah-rumah yang berada dekat pantai menjadi yang paling rentan ketika gelombang tinggi datang.
“Gelombang air ini, rumah kami bisa hancur semua. Jadi kami hanya minta kepada pemerintah, dari pusat juga, minta bantuan untuk penembokan atau bagaimana,” ujar Rini, Rabu (12/8/2026),
Menurut Rini, abrasi bukan persoalan baru bagi masyarakat setempat. Ancaman tersebut telah berlangsung cukup lama dan terus berulang, terutama ketika gelombang tinggi menghantam kawasan pesisir.
“Beberapa rumah warga di bagian ujung permukiman bahkan sudah roboh dan tidak lagi dapat digunakan. Kalau tahun ini gelombang datang lagi, hancur sudah. Rumah yang bagian ujung sudah hancur. Kami juga sudah sampaikan hal ini kepada Ibu Dewan,” katanya.
Kata dia, warga selama ini berusaha melindungi rumah mereka secara swadaya. Karung-karung berukuran besar dibeli dan dipasang sebagai penahan gelombang. Ketika pohon-pohon di sekitar pantai tumbang, batangnya pun dimanfaatkan sebagai material penahan sementara.
Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan abrasi. “Tahun lalu kami beli karung-karung besar. Sudah banyak uang yang kami keluarkan untuk ini, tetapi tetap roboh juga,” ungkap Rini.
Ia mengatakan gelombang tinggi tidak hanya terjadi pada musim barat, yakni sekitar Desember hingga Februari. Saat bulan purnama, gelombang juga dapat kembali tinggi dan mengancam permukiman.
“Biasanya musim barat bulan Desember, Januari, Februari. Tetapi kalau bukan musim barat, saat bulan purnama tetap gelombang,” jelasnya.
Jelasnya, kondisi tersebut bahkan membuat sebagian warga terpaksa meninggalkan rumah. Ketika gelombang datang, air laut dapat masuk ke dalam rumah sehingga warga memilih membongkar tempat tinggal dan mencari lokasi yang lebih aman.
“Kalau gelombang air laut datang, air masuk ke rumah tetangga. Ada rumah yang sudah dibongkar, kemudian pindah dan menyewa tanah lain untuk tinggal,” tuturnya.
Rini menyebut sekitar 10 kepala keluarga saat ini berada di kawasan yang rentan terdampak langsung gelombang. Warga yang tinggal di lokasi tersebut memiliki lama menetap yang berbeda, mulai dari dua tahun hingga sekitar 10 tahun.
“Kami tinggal di sini ada yang sekitar 10 tahun dan ada yang dua tahun,” katanya.
Abrasi juga menjadi persoalan serius bagi kehidupan ekonomi masyarakat pesisir. Sebagian warga menggantungkan penghasilan dari melaut, sehingga kondisi gelombang dan kerusakan kawasan pantai turut memengaruhi aktivitas mereka.
Ia berharap pemerintah segera membangun pengaman pantai yang permanen. “Kita juga sudah sampaikan ini beberapa kali ke Bapak/I DPRD Kabupaten Belu saat reses, tapi sampai hari ini belum terealisasi. Terkahir kami sudah sampaikan lewat Ibu Wendelina beberapa waktu lalu,” tuturnya.
Anggota DPRD Kabupaten Belu dari Fraksi Partai Gerindra, Wendelina Happy Sally, yang konfirmasi mengatakan penanganan abrasi membutuhkan anggaran besar serta keterlibatan lintas sektor.
Karena itu, persoalan tersebut menurutnya perlu mendapat perhatian pemerintah dari tingkat daerah hingga pusat.
Ia mengakui, aspirasi warga pesisir tersebut sudah didengar langsung dan akan di aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Belu untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat, sehingga kawasan pesisir di samping Pelabuhan Atapupu itu dapat memperoleh solusi penanganan yang lebih permanen.
