www.pencarifakta.com.ǁNTT,25 Juni 2026-Sebanyak 126 jiwa dari 35 keluarga terdampak longsor yang terjadi di Dusun Oenoto, Desa Oinlasi, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Berdasarkan data yang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten TTS, akibat dari longsor tersebut 11 rumah mengalami kerusakan dan 12 kepala keluarga harus mengungsi.
Hal ini disampaikan Kalak BPBD Kabupaten Timor Tengah Selatan, drh. Daniar Aty di lokasi longsor Desa Oinlasi, Kecamatan Kie pada Rabu (24/6/2026).
“Awalnya dilaporkan sembilan keluarga yang mengungsi dengan kondisi rumah yang rusak berat, namun kami konfirmasi kembali bahwa setelah dilakukan pendataan, kami sampaikan terdapat 11 rumah yang terdampak dan karena ada satu rumah yang isinya dua keluarga, maka total yang mengungsi 12 kepala keluarga,” jelasnya.
Dari jumlah yang dilaporkan, berdasarkan jenis kelamin dan usia, laki-laki tercatat sebanyak 66 orang dan perempuan sebanyak 60 orang. Selain itu, total lansia berjumlah 5 orang, dewasa 79 orang, anak-anak 33 orang dan balita sebanyak 9 orang.
Pemerintah daerah melalui BPBD juga telah melakukan kerja cepat berdasarkan prinsip penanggulangan bencana yaitu cepat dan tepat.
drh. Daniar menuturkan, pihaknya mendapatkan informasi kejadian ini pada Senin (22/6/2026) sore. Tindakan yang dilakukan dibangun tiga tenda darurat dan ditambah fasilitas posyandu yang menjadi posko pengungsian.
“Kemarin kita salurkan sembako untuk kebutuhan pangan masyarakat. Selain itu dari pihak Puskesmas Kie juga telah bersama-sama dengan kami untuk pengecekan kesehatan para pengungsi disini,” ungkapnya.
BPBD akan terus memantau kondisi di lokasi longsor tersebut dan membangun komunikasi berjenjang dengan pemerintah desa dan kecamatan agar penanganan bencana dapat berjalan baik dan masyarakat tidak merasa ditinggalkan.
Berdasarkan pantauan di lokasi longsor yang terjadi di lokasi Dusun Oenoto berupa retakan akibat pergeseran tanah yang dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Kondisi longsor paling parah berasa pada ujung lereng, serta beberapa patahan yang diperkirakan merupakan jalur air bawah tanah.
Beberapa rumah yang terdampak mengalami kerusakan berat mengalami retakan bagian lantai rumah, tembok rubuh, bagunan miring serta retakan di sekitar bangunan tiga sampai empat sentimeter.
Selain itu beberapa rumah yang fondasinya menggantung akibat tanah disekitarnya telah mengalami pergeseran.
Masyarakat yang mengungsi secara gotong royong memindahkan barang-barang dari rumah mereka ke tempat yang lebih aman. Ada yang membuat pondok darurat untuk menyimpan hasil pangan yang sebelumnya disimpan di rumah bulat namun rumah bulat telah rubuh akibat longsor tersebut.
Selain rumah dan pondok (ume bulat), beberapa kuburan juga retak dan terpaksa harus dipindahkan. Hingga saat ini masyarakat masih mengungsi di posyandu dan tenda darurat yang dibangun.












