Berita  

Petugas Irigasi di Lembor Manggarai Barat Dapat Bekal Pengetahuan Soal Penyakit Kardiovaskuler

www.pencarifakta.com.ǁNTT,15 Desember 2025-Petugas irigasi di Lembor, Kabupaten Manggarai Barat secara khusus mendapat bekal pengetahuan dari tim dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang.

Bekal pengetahuan yang diberikan berupa promotif dan preventif melalui deteksi dini dan edukasi tingkat risiko penyakit kardiovaskuler sebagai wujud kegiatan pengabdian masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Kupang.

Adapun kegiatan ini melibatkan Ketua Tim, Dr. Ns. Emilia Erningwati Akoit, SKep.,M.Kep, Yulianti K. Banhae, SKep, Ns, MKes (Anggota), Maria Agustina Making, S.Kep, Ns., M.Kep (Anggota), Maria Sambriong, SST, MPH (Anggota) dan Yustinus Rindu, SKep, Ns, MKep (Anggota). 

Ketua Tim, Dr. Ns. Emilia Erningwati Akoit dalam keterangannya mengatakan, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petugas irigasi tentang tanda dan gejala penyakit jantung koroner serta upaya pencegahan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa. 

Selain itu, melalui edukasi ini, petugas irigasi dapat mengetahui tingkat risiko terjadinya penyakit jantung koroner yang dapat dikategorikan menjadi tingkat risiko rendah, sedang dan tinggi. Dengan demikian dapat mengambil keputusan yang tepat untuk dapat melakukan upaya pencegahan dan penatalaksanaan berdasarkan tingkat risiko.

Menurut Dr. Ns. Emilia Erningwati Akoit, ruang lingkup kegiatan ini adalah melakukan skrining tingkat risiko menggunakan instrumen Jakarta Kardiovaskluer Score (JKS). Instrumen ini dapat mengukur risiko penyakit kardiovaskuler dengan memasukan predictor seperti jenis kelamin, usia, Tekanan darah, Index Massa Tubuh (IMT), merokok, diabetes dan aktifitas fisik sehingga dapat memberikan gambaran tingkat risiko yang jelas. 

“Seorang individu dikategorikan mempunyai risiko rendah jika hasil skor -7 sampai +1, risiko sedang jika hasil skor +2 sampai +4 dan risiko tinggi jika hasil skor > +5. Kegiatan ini juga meliputi pemberian edukasi tentang penyakit jantung koroner serta upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa (> 15 tahun),” jelas Dr. Ns. Emilia Erningwati Akoit. 

Dijelaskan Dr. Ns. Emilia Erningwati Akoit bahwa hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah teridentifikasinya tingkat risiko penyakit kardiovaskluer pada petugas irigasi di Desa Daleng Kecamatan Lembor. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 27 orang petugas irigasi didapatkan 15 orang (55,6 persen) berada di tingkat risiko rendah, 10 orang (37,0 % ) dengan tingkat risiko sedang dan 2 orang (7,4 % ) memiliki risiko tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskuler. 

Para petugas selanjutnya diberikan edukasi terkait tindak lanjut yang perlu dilakukan berdasarkan tingkat risiko. Bagi individu dengan tingkat risiko rendah, dianjurkan untuk menerapkan gaya hidup sehat seacar konsisten termasuk mengatur pola makan yang seimbang (tinggi serat, rendah lemak jenuh, gula dan garam), aktifitas fisik rutin (olahraga minimal 150 menit per minggu), menjaga berat badan ideal, berhenti merokok dan mengelola stres dengan baik.

Bagi individu dengan risiko sedang, rekomendasinya meliputi mengikuti program promotif di fasilitas pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas atau bergabung dengan Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis), konsultasi dengan tenaga medis untuk manajemen faktor risiko yang lebih terarah.

Selanjutnya rekomendasi bagi individu dengan tingkat risiko tinggi adalah segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis jantung untuk pemeriksaan penunjang lebih lanjut dan penatalaksanaan yang intensif. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan faktor risiko secara agresif serta mencegah terjadinya penyakit jantung koroner dalam 10 tahun ke depan.

“Manfaat kegiatan ini bagi petugas irigasi adalah sebagai sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit jantung koroner, tingkat risiko mengalami penyakit jantung koroner dalam 10 tahun ke depan dan upaya-upaya pencegahan yang dapat dilakukan sehingga tidak terjadi penyakit jantung koroner,” katanya. 

Dikatakan Dr. Ns. Emilia Erningwati Akoit, pentingnya upaya promotif dan preventif terutama bagi usia dewasa (dalam hal ini petugas irigasi) yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahamaan petugas irigasi dalam mengenal tentang penyakit jantung koroner serta upaya pencegahan dan tindak lanjut yang dilakukan berdasarkan tingkat risiko yang dialami.

Pasalnya, menurut penelitian yang dilakukan oleh Mochsen & Kale (2018), faktor risiko kardiovaskular ini bisa diturunkan melalui upaya pemberian Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) yang berkesinambungan kepada masyarakat.

KIE dalam program kesehatan ditujukan untk meningkatkan kepedulian dan mengubah sikap untuk menghasilkan suatu sebuah perubahan perilaku yang spesifik. Jika risiko komplikasi kardiovaskuler ini dapat diidentifikasi sejak dini maka tindakan pencegahan dapat dilakukan dan penderita dapat terhindar dari komplikasi yang membahayakan.

Upaya pencegahan ini tentunya tidak sama untuk setiap tingkat risiko dimana penderita dengan tingkat risiko yang tinggi membutuhkan penanganan yang lebih intensif dibandingkan individu dengan tingkat risiko yang lebih rendah. 

“Kami ucapkan terima kasih kepada Kepala Puskesmas Wae Nakeng Kelurahan Tangge Kecamatan Lembor dan koordinator petugas irigasi yang sudah membantu memfasilitasi terlaksananya kegiatan pengabdian masyarakat ini sehingga kegiatan ini berjalan dengan lancar,” pungkas Dr. Ns. Emilia Erningwati Akoit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *