Berita  

Pedagang Pisang di Kota Kupang Bertahan di Tengah Cuaca Tak Menentu

www.pencarifakta.com.ǁNTT,6 Januari 2026-Hujan yang belakangan sering mengguyur Kota Kupang membawa cerita tersendiri bagi para pedagang pisang.

Jika bagi sebagian orang hujan menjadi penyejuk, bagi pedagang pisang, cuaca hujan justru menjadi ujian ketahanan usaha kecil yang bergantung pada kondisi alam.

di  Pasar Penfui  Kota Kupang, terlihat para pedagang menjaga pisang-pisang dari cuaca agar layak dijual karena  rentan basah dan cepat menghitam. 

“Hujan bikin pembeli sepi. Kalau pisang kena air, cepat rusak, jadi harganya turun,” ujar Sarah Boro (45), pedagang pisang di Pasar Inpres, Senin (5/1).

Menurut Sarah, pada hari cerah ia bisa menjual hampir seluruh dagangannya. Namun, saat hujan turun sejak pagi, pisang sering tersisa dan harus dijual keesokan hari dengan harga lebih murah.

Hal serupa dirasakan Kristian Lake (38), pedagang pisang di pinggir Jalan pasar Penfui. Ia mengaku cuaca hujan membuat penghasilannya tidak menentu.

“Kalau hujan deras, orang jarang berhenti beli. Kadang sehari cuma dapat setengah dari biasanya,” ujarnya.

Selain berkurangnya pembeli, hujan juga memengaruhi pasokan pisang dari kebun-kebun warga di wilayah Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS). Jalan licin dan kebun becek membuat distribusi hasil panen kerap terlambat.

Untuk bertahan, sebagian pedagang mengurangi jumlah stok dan memilih menjual pisang yang masih setengah matang agar tidak cepat busuk. Ada pula yang mengolah pisang menjadi pisang goreng sebagai cara mengurangi kerugian.

Selain itu, mereka juga tidak hanya menjual pisang tetapi juga bumbu dapur lainnya seperti jahe, kunyit, sereh serta sayuran buah yang diambil dari Kabupaten TTS. 

“Daripada rusak, lebih baik digoreng. Walaupun untungnya kecil, yang penting bisa makan hari ini,” ujar Kristian.

Di balik rintik hujan dan terpal yang menetes, para pedagang pisang tetap setia menunggu pembeli. Bagi mereka, hujan bukan alasan untuk berhenti, melainkan tantangan yang harus dihadapi demi menyambung hidup.

Musim hujan pun menjadi pengingat bahwa di sudut-sudut Kota Kupang, ada perjuangan sunyi pedagang kecil yang tetap berdiri di bawah cuaca yang tak menentu, menggantungkan harapan pada setiap sisir pisang yang terjual. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *