www.pencarifakta.com.ǁNTT,13 Mei 2026-Pemerintah Daerah Manggarai Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur turun meninjau kondisi kerusakan crossway yang menghubungkan ruas jalan Sok-Wae Care, akibat diterjang banjir bandang di sungai itu, Rabu 13 Mei 2026 pagi.
Edward Luru, Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Manggarai Timur, Rabu pagi, mengatakan pihaknya sudah turun langsung ke lokasi bencana alam crossway rusak itu dan telah melihat langsung tingkat kerusakan crossway dampak banjir bandang di Sungai Waemusur.
Edward mengatakan, berdasarkan pantauan panjang kerusakan crossway itu sekitar 30 meter yang kondisinya putus total.
Edward juga mengatakan, terkait bencana alam putusnya crossway ini, pihaknya selanjutnya akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur.
Adapun, Itensitas curah hujan yang tinggi di wilayah Kecamatan Ranamese dan sekitarnya di Kabupaten Manggarai Timur, sepanjang malam hari sejak Selasa 12 sampai Rabu 13 Mei 2026 pagi terjadi banjir bandang di Sungai Waemusur, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Ranamese.
Banjir itu menerjang jembatan crossway yang menghubungkan ruas jalan Sok-Wae Care, jalur lintas selatan, Kabupaten Manggarai Timur.
Crossway yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Manggarai Timur bersama Kodim 1612 Manggarai melalui program TMMD ke-116 pada tahun 2023 itu putus dan hancur total.
Semua material berupa campuran beton dan bebatuan sebagai penyangga hanyut terbawa banjir.
Kepala Desa Bea Ngencung, Evaristus Indrano, Rabu 13 Mei 2026 pagi, menerangkan, terjadi banjir bandang di Sungai Waemusur dampak hujan lebat yang mengguyur wilayah itu sepanjang malam tadi.
Tidak ada korban jiwa, dan rumah-rumah warga juga selamat dari banjir itu, namun jembatan crossway yang menghubungkan jalan lintas Selatan Sok-Wae Care itu putus dan hancur total hanya menyisahkan sebagian kecil badan crossway.
Warga Tiga Desa Resmi Terisolir
Evaristus juga mengatakan, dampak putusnya jembatan crossway itu mengakibatkan warga di tiga desa yaitu Desa Bea Ngencung, Lidi, dan Desa Satar Lenda kini resmi terisolir, sebab crossway itu menjadi satu-satunya akses transportasi masyarakat dari 3 desa itu baik dari dan menuju Kota Borong, pusat ibu kota Kabupaten Manggarai Timur.
“Kondisi sekarang kami warga tiga desa terisolir karena akses jalan satu-satunya kini lumpuh total akibat jembatan crossway itu putus total diterjang banjir bandang. Kami tidak bisa menggunakan kendaraan baik roda 2 apalagi roda 4 untuk mengangkut hasil komoditi pertanian kami,” ungkap Evaristus.
Lapor Bupati
Evaristus juga mengatakan, terkait bencana alam putusnya crossway ini juga ia telah melaporkan kepada Bupati Manggarai Timur tembusan ke BPBD, PUPR dan DPRD Manggarai Timur.
Evaristus berharap, pemerintah daerah segera merespon untuk membangun jembatan, bukan crossway.
“Saya mewakili warga kami minta bangun jembatan baru, jangan lagi bangun crossway seperti ini. Ada lubang-lubang kecil dalam crossway ini air banjir tidak bisa lewat sehingga harus meluap dan menerjang badan crossway sampai putus, dampaknya DAS sungai juga semakin meluas dan banjir meluap menyapu tanaman padi milik warga di sepanjang bantaran sungai ini,”ungkap Evaristus.
Adapun dampak putusnya crossway ini bukan hanya melumpuhkan arus transportasi warga di tiga desa, namun juga melumpuhkan arus transportasi di lintas selatan yang menghubungkan wilayah Kabupaten Manggarai Timur dengan Kabupaten Manggarai.
